
- 08/28/2025
- Alif Sowandono
- 0 Comments
- Kiat
Bahaya Kebakaran Mobil Listrik dan Pentingnya Pelatihan K3 di Indonesia
Industri kendaraan listrik (EV) di Indonesia sedang mengalami lonjakan pesat. Dari pabrik baterai hingga ekosistem charging station, semua bergerak cepat mengiringi komitmen pemerintah terhadap transisi energi bersih. Namun, di balik gemerlap kemajuan itu, pelatihan K3 untuk kendaraan listrik masih menjadi isu yang terabaikan—padahal nyawa bergantung padanya.
Fakta pahitnya? Banyak pekerja di sektor EV belum memahami betul risiko yang mengintai di balik baterai lithium-ion. Padahal, satu kesalahan kecil saat menangani kebocoran, korsleting, atau kebakaran bisa berujung pada tragedi.
Tegangan Tinggi: Ancaman yang Tak Terlihat
Sistem kelistrikan mobil listrik bisa mencapai 800 volt, jauh di atas tegangan listrik rumah tangga yang hanya 220 volt. Artinya, risiko sengatan listrik bukan sekadar gangguan ringan—tapi bisa fatal.
Baca Juga: Presiden Prabowo Komitmen K3, PT Davai Karya Pratama Siap Dukung
“Tanpa pelatihan K3 Listrik yang memadai, teknisi bisa tewas dalam hitungan detik,” tegas Etria Fatrina, Trainer Senior di PT Davai Karya Pratama. “Ini bukan soal prosedur, tapi soal insting dan kesiapan.”
Padahal, banyak bengkel dan pusat produksi EV masih mengandalkan teknisi yang terbiasa dengan mesin konvensional. Mereka mungkin ahli dalam mesin bakar, tetapi belum tentu paham bagaimana memutus aliran listrik di baterai tegangan tinggi secara aman.

Kimia Beracun di Balik Baterai Lithium
Selain risiko listrik, baterai lithium-ion juga menyimpan ancaman kimia. Komponen seperti nikel, kobalt, dan elektrolit cair bersifat korosif dan mudah terbakar. Jika baterai rusak atau bocor, pekerja bisa terpapar zat beracun yang menyebabkan iritasi parah hingga kerusakan organ.
Di sinilah pelatihan K3 Kimia harus menjadi standar wajib. “Kita tidak hanya melindungi mesin, tapi juga manusia yang bekerja dengannya,” kata Etria. “Pelatihan ini bukan formalitas—ini pertahanan pertama terhadap bencana.”
Sayangnya, banyak perusahaan masih menganggap pelatihan ini sebagai beban biaya, bukan investasi keselamatan.
Siram Saja Pakai Air Kalau Mobil Listrik Terbakar
Inilah salah satu mitos paling berbahaya di masyarakat. Kebakaran akibat korsleting baterai EV tidak boleh dipadamkan dengan air biasa. Mengapa? Karena air bisa mempercepat reaksi kimia dalam baterai lithium, bahkan memicu ledakan.
Faktanya, kebakaran jenis ini termasuk kelas D—kebakaran logam aktif. Oleh sebab itu, satu-satunya solusi efektif adalah Alat Pemadam Api Ringan (APAR) jenis D, yang dirancang khusus untuk memadamkan api dari logam seperti lithium dan magnesium.
Selain itu, sistem pemadaman berbasis dry powder dan clean agent seperti FM-200 juga direkomendasikan. Sistem ini tidak hanya memadamkan api, tetapi juga mencegah reignition (nyala ulang) tanpa merusak komponen elektronik di sekitarnya.

Menyadari urgensi ini, PT Davai Karya Pratama menghadirkan pelatihan BFF (Basic Fire Fighter) yang khusus dirancang untuk menghadapi kebakaran di lingkungan kerja salah satunya di perakitan EV. Program ini bukan simulasi teoritis, melainkan pelatihan praktis dengan skenario nyata.
Disini peserta diajarkan:
-
- Cara mengidentifikasi titik api awal
-
- Teknik evakuasi aman dari area tegangan tinggi
-
- Penggunaan APAR jenis D secara efektif
-
- Prosedur pemadaman berbasis risiko kimia dan listrik
“Kesalahan kecil bisa berakibat besar. Pelatihan bukan teori, tapi soal nyawa,” tegas Etria.
Leave a Comment